Bahlil Lahadalia Paparkan Roadmap Penghentian Impor Solar dan Bensin

Jumat, 13 Februari 2026 | 09:58:39 WIB
Bahlil Lahadalia Paparkan Roadmap Penghentian Impor Solar dan Bensin

JAKARTA - Ketergantungan Indonesia terhadap impor bahan bakar minyak perlahan diarahkan menuju babak baru. Pemerintah mulai menyusun langkah bertahap untuk memperkuat produksi dalam negeri, terutama pada komoditas solar dan bensin. 

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Bahlil Lahadalia, memaparkan peta jalan penghentian impor BBM sebagai bagian dari strategi besar memperkuat ketahanan energi nasional.

Dalam paparannya, Bahlil menegaskan kementeriannya bakal mulai menghentikan impor solar tahun ini. Sementara itu, rencana stop impor bensin bakal dilakukan tahun depan. Ia menyampaikan, “Di 2026 kita tidak lagi melakukan impor solar C48, informasi ini bagus bagi kita, tapi tidak bagus bagi importir,” kata Bahlil.

Langkah ini menjadi sinyal kuat bahwa pemerintah ingin mengurangi ketergantungan pada pasokan luar negeri. Penghentian impor tidak dilakukan secara serentak, melainkan bertahap dengan mempertimbangkan kesiapan produksi domestik dan kebutuhan industri.

Strategi Bertahap Penghentian Impor Solar

Pemerintah bakal memulai stop impor solar dengan angka setana atau cetane number (CN) 48. Artinya, jenis solar dengan CN48 akan menjadi tahap awal yang dihentikan impornya. Kebijakan ini dipilih karena dinilai paling siap untuk digantikan oleh produksi dalam negeri.

Adapun, impor solar berkualitas tinggi atau CN51 akan dihentikan pada semester II-2026. Namun, untuk jenis dengan kualitas lebih tinggi seperti C51 dan C52, pemerintah masih memberi ruang penyesuaian bagi industri. “Tapi untuk C51, C52 yang masih bagus, industri kita masih butuh penyesuaian,” kata Bahlil.

Kebijakan ini memperlihatkan pendekatan realistis. Pemerintah tidak langsung menutup seluruh keran impor, melainkan menyesuaikan dengan kemampuan kilang domestik. Dengan cara ini, stabilitas pasokan tetap terjaga sambil mendorong peningkatan kapasitas produksi nasional.

Kapasitas Kilang Dan Target Bauran Biodiesel

Bahlil menerangkan langkah menghentikan impor solar itu berdasar pada kapasitas produksi domestik yang bakal naik setelah beroperasinya Refinery Development Masterplan Program (RDMP) di Kilang Balikpapan. Optimalisasi kilang ini menjadi kunci dalam memperkuat suplai solar dalam negeri.

Selain itu, kementerian ESDM juga bakal mengerek bauran solar dengan biodiesel sebesar 50% pada semester II-2026. Kebijakan ini sejalan dengan upaya transisi energi dan penguatan hilirisasi sawit nasional melalui program B50.

Selepas penerapan B50, Bahlil memperkirakan, produksi solar domestik bakal surplus sekitar 4 juta ton nantinya. Surplus ini diharapkan mampu menutup kebutuhan nasional sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap impor. 

Dengan kombinasi peningkatan kapasitas kilang dan kebijakan bauran biodiesel, pemerintah optimistis target penghentian impor solar dapat tercapai sesuai jadwal.

Rencana Stop Impor Bensin Dan Pembangunan Industri

Di sisi lain, kementerian ESDM turut mendorong penghentian impor bensin nantinya. Penghentian impor BBM jenis bensin itu akan menyasar pada produk dengan nilai oktan atau RON 92, RON 95, dan RON 98. Jenis-jenis ini selama ini masih dipenuhi sebagian melalui impor.

Rencananya, penghentian impor bensin itu dilakukan pada akhir 2027 mendatang. Adapun, bensin RON 90 yakni BBM bersubsidi Pertalite bakal tetap diimpor. Kebijakan ini menunjukkan bahwa pemerintah tetap mempertimbangkan aspek sosial dan daya beli masyarakat dalam menyusun roadmap energi.

Bahlil menyatakan keputusan terkait dengan penyetopan impor sejumlah jenis BBM tersebut akan diputuskan oleh Kementerian ESDM pada akhir 2027. “Makanya RON 92, RON 95, RON 98, 2027 kita harus bangun industrinya, saya sudah panggil Pertamina, termasuk avtur,” kata Bahlil.

Pernyataan tersebut menegaskan bahwa penghentian impor bensin sangat bergantung pada kesiapan infrastruktur dan industri dalam negeri. Pemerintah telah memanggil Pertamina untuk membahas kesiapan produksi, termasuk bahan bakar pesawat atau avtur. Artinya, transformasi ini tidak hanya menyasar sektor transportasi darat, tetapi juga sektor penerbangan.

Arah Baru Ketahanan Energi Nasional

Lebih jauh, Bahlil menekankan bahwa ke depan Indonesia hanya akan mengimpor bahan baku mentah apabila diperlukan. “Ujungnya nanti di mana kita impor apanya, crude-nya saja bahan bakunya, tapi seluruh produknya itu ada di dalam negeri,” tuturnya.

Pernyataan ini menggambarkan visi besar pemerintah dalam membangun kemandirian energi. Alih-alih terus mengimpor produk jadi, Indonesia diarahkan untuk memperkuat kapasitas pengolahan di dalam negeri. Dengan begitu, nilai tambah dapat dinikmati secara maksimal oleh industri nasional.

Roadmap penghentian impor solar dan bensin ini bukan sekadar kebijakan jangka pendek, melainkan bagian dari transformasi struktural sektor energi. Pemerintah berupaya menyeimbangkan antara kebutuhan domestik, kesiapan industri, serta keberlanjutan fiskal negara.

Jika seluruh tahapan berjalan sesuai rencana, Indonesia berpotensi mengurangi defisit neraca perdagangan migas sekaligus memperkuat ketahanan energi. Namun, tantangan tetap ada, mulai dari kesiapan teknologi, efisiensi kilang, hingga stabilitas harga minyak dunia.

Dengan strategi bertahap dan dukungan penguatan industri, pemerintah optimistis target penghentian impor solar pada 2026 dan bensin pada 2027 dapat terealisasi. Roadmap ini menjadi tonggak penting dalam perjalanan Indonesia menuju kemandirian energi yang lebih kokoh dan berkelanjutan.

Terkini